Jumat, 30 Desember 2011

OPTIMISME DAN PESIMIMSI REKAYASA GENETIKA

OLEH:
I WAYAN SURYANEGARA, S.Pd
2011

PENDAHULUAN
            Pergerakan zaman yang semakin modern memungkinkan manusia untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Ilmu pengetahuan yang tidak pernah ada habisnya selalu memberikan jalan keluar terhadap segala permasalahan manusia. Tidak jarang juga terjadi sebaliknya, yang tidak diharapkan yang muncul dan cenderung merugikan bahkan membahayakan.
            Dalam bidang bioteknologi kita mengenal ilmu rekayasa genetika. Ilmu ini memungkinkan manusia menciptakan hewan dan tanaman yang unggul dalam hal ini bermanfaat bagi manusia. Tidak hanya sampai disitu, bahkan keberadaan manusia dimuka bumi ini bisa dating dari rekayasa genetika. Secara teori rekayasa genetika merupakan upaya manusia yang secara sengaja mengubah, memodifikasi, ataupun menambahkan susunan suatu gen dengan material baru pada suatu organisme untuk mendapatkan turunan yang sesuai dengan harapan manusia.
            Perjalanan tehnik ini tidaklah selau berjalan lancar. Bagaikan dua sisi mata uang, adanya pendapat pro dan kontra akan tehnik ini selalu berdampingan. Banyak orang yang memandang secara optimis terhadap berjalannya tehnik ini dengan berbagai harapan dan alasan yang muaranya adalah keuntungan dipihak manusia ditinjau dari berbagai bidang kehidupan. Namun yang memandang pesimis terhadap hal ini juga tidak kalah banyak. Dari 30 artikel berbentuk laporan maupun opini yang muncul antara tahun 1999-2001 di Kompas, hanya tujuh buah yang bernuansa netral atau pro terhadap hasil produk rekayasa genetik. Selebihnya, sangat tendensius. Sebagian besar tulisan menyuarakan nuansa yang sama, produk rekayasa genetika berbahaya.

TANAMAN TRANSGENIK

Penyempitan lahan pertanian, sebgai konsekuensi industrialisasi dan perluasan area perumahan, mengakibatkan praktik pertanian konvensional sudah tidak mampu lagi menopang kebutuhan pangan masyarakat yang terus meningkat. Rekayasa genetika memberikan pemecahan pada permasalahan ini dengan adanya tanaman transgenik.

Secara  ontologi   tanaman transgenik adalah  suatu produk rekayasa genetika  melalui  transformasi gen dari  makhluk hidup  lain ke dalam tanaman yang tujuannya untuk menghasilkan tanaman baru  yang memiliki sifat unggul yang lebih  baik  dari  tanaman sebelumnya.   Secara epistemologi,  proses pembuatan  tanaman transgenik sebelum  dilepas  ke  masyarakat telah melalui hasil  penelitian  yang panjang, studi  kelayakan dan uji lapangan dengan pengawasan  yang  ketat,  termasuk melalui analisis   dampak lingkungan untuk jangka pendek dan jangka  panjang.    Secara aksiologi:  berdasarkan  pendapat  kelompok masyarakat  yang pro dan kontra  tanaman transgenik memiliki manfaat   untuk memenuhi kebutuhan pangan  penduduk,  tetapi manfaat tersebut belum teruji, apakah lebih  besar  manfaatnya atau kerugiannya.
Tanaman transgenik merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atau sejumlah gen. Gen yang dimasukkan itu - disebut transgene - bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies yang lain sama sekali. Transgenik per definisi adalah the use of gene manipulation to permanently modify the cell or germ cells of organism (BPPT,2000). Karena berisi transgene tadi, tanaman itu disebut genetically modified crops (GM crops). Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika (genetically modified organisms, GMOs).  Transgene umumnya diambil dari organisme yang memiliki sifat unggul tertentu.  Misal, pada proses membuat jagung Bt tahan hama, pakar bioteknologi memanfaatkan gen bakteri tanah Bacillus thuringiensis (Bt) penghasil racun yang mematikan bagi hama tertentu.  Gen Bt ini disisipkan ke rangkaian gen tanaman jagung. Sehingga tanaman resipien (jagung) juga mewarisi sifat toksis bagi hama. Ulat atau hama penggerek jagung Bt akan mati (Intisari, 2003). Berikut dipaparkan adanya optimisme dan pesimisme tanaman transgenik.
OPTIMISME TRANSGENIK
            Kelebihan dari proses rekayasa genetika tanaman transgenik dibandingkan dengan pemuliaan tanaman secara tradisional yaitu dalam tanaman transgenik, gen yang dipindahkan dapat diketahui dengan persis dan dapat diikuti "perjalanannya". Tanaman yang tahan terhadap serangga tertentu, tidak begitu banyak memerlukan insektisida, bahan bakar untuk alat semprot, dan tidak ada kaleng bekas insektisida menjadikan tanaman transgenik ramah terhadap lingkungan.
Dapat menjadi bahan renungan bagi kita, saat ini enam puluh persen benih yang dijual di Amerika adalah benih hasil rekayasa genetika. Tak heran, jika sejak 1992 pertumbuhan industri bioteknologi mengalami pertumbuhan lebih dari tiga kali lipat. Dengan peningkatan pendapatan dari 8 miliar dolar AS di tahun 1992 menjadi 27,6 miliar dolar AS di tahun 2001.
Bukan hanya itu, industri bioteknologi telah menyediakan lapangan kerja bagi 179.000 orang, jumlah ini lebih banyak dari jumlah pekerja di bidang makanan, mainan, dan jasa. Inilah kemajuan bioteknologi yang kita harapkan. Coba kita cermati apa yang dikatakan William Shakespeare dalam Measure for Measure, keraguan adalah pengkhianatan, membuat kita kehilangan peluang untuk menang karena rasa takut untuk mencoba. Ya, dari totipotensi telah menjadi potensi bisnis.
Ilmuwan protanaman GM bersikukuh, racun Bt cuma membunuh ulat tertentu, dan tidak mampu membunuh hewan lain maupun manusia yang mengkonsumsi jagung Bt.  Tidak perlu mengkhawatirkan nasib serangga berguna, predator pemangsa ulat, burung atau hewan ternak pemakan daun jagung Bt. Tidak berpengaruh buruk terhadap flora dan fauna dalam tanah dan sekitarnya. 
Kelompok pro-GM bersikeras, tanaman GM dan produk olahannya aman dan menguntungkan  dan patut dimasyarakatkan produk transgenik tersebut. Pertengahan 1990-an, pelaku agribisnis mulai mempromosikan benih tanaman GM yang diklaim mengurangi pemakaian pestisida dan ramah lingkungan,  seperti : jagung Bt, kapas Bt, dan kedelai Bt, kanola yang tahan hama dan toleran herbisida.  Tanaman GM tahan hama, memiliki keuntungan ganda. Karena dengan disisipi gen bakteri tanah Bt, sel tanaman akan menghasilkan crystalline (Cry) protein yang bersifat toksik terhadap hama serangga tertentu. Terutama ulat bulu dan hama penggerek yang menggerogoti tanaman Bt, tapi tidak berbahaya bagi organisme lain.
Jenis Tanaman Transgenik yang Dikembangkan diberbagai Negara
            Tanaman transgenik mulai ditanam secara komersial di Cina, lewat jenis tembakau, tahun 1992. Pada 1994 tomat lambat matang (awet segar) Flavr  Savr menjadi produk GM pertama yang ditanam untuk dipasarkan di AS. Sejak itu, areal berbagai jenis tanaman GM melonjak. Tahun 2000, melonjak sampai 11% (setara 4,3 juta ha), dan areal tanaman GM seluruhnya 44,2 juta ha (Scientific American, April 2001).  Dari total 44,2 juta ha, 33,5 juta ha ada di negara industri, dan 10,7 juta ha di negara berkembang. AS sebagai negara produsen tanaman GM terbesar (68% dari total areal GM dunia), terdiri atas tanaman kedelai, jagung, kapas, dan kanola transgenik. Argentina (23%, meliputi kedelai, jagung, dan kapas transgenik), Kanada (7%, kedelai, jagung, dan kanola transgenik), Cina (1%, tanaman kapas transgenik). Negara lainnya (1%), meliputi Afrika Selatan (jagung dan kapas GM), Australia (kapas GM), Rumania (kedelai dan kentang GM), Meksiko (kapas GM), Bulgaria (jagung GM), Spanyol (jagung GM), Jerman (jagung GM), Prancis (jagung GM), Uruguai (kedelai GM). Sementara di negara Asia belum tercatat.  Dewasa ini ada lebih dari ratusan produk bioteknologi modern, dan lebih dari seratus produk pertanian pangan telah dipasarkan (US FDA, Center for Food Safety and Appiled Nutrition, CFS-AN handout: 1995 dalam Berita Bumi, Desember 2000).
PESIMISME TRANSGENIK
            Adanya tanaman transgenik menimbulkan berbagai komentar miring padanya. Dari berbagai sudut pandang masyarakat, mulai dari sosial ekonomi sampai dengan religius. Adanya tanaman transgenik ini dikhawatirkan bisa menjadi ancaman terhadap pertumuhan varietas asli tanaman. Tanaman transgenik (GM) akan menyebarkan serbuk sarinya hingga terjadi persilangan dengan tanaman lokal. Hal ini mengancam keanekaragaman hayati tanaman lokal. Perkembangan GM menguntungkan perusahaan pengembang, sedangkan petani kecil semakin terdesak.
Salah satu tanaman transgenik yang ada adalah jagung. Ilmuwan Swiss menyimpulkan, tanaman jagung Bt merugikan serangga bermanfaat dan racun Bt terakumulasi dalam tanah sehingga merugikan ekosistem tanah. Juga penanaman secara luas varietas Bt mempercepat terjadi evolusi resisten racun Bt pada hama serangga. Sekali hama menjadi resisten terhadap racun Bt, akan sulit mengefektifkan pengendalian hama secara hayati. Kalau itu terjadi serentak dan meluas, betapa "evolusi hijau" kedua akan terjadi. Tatanan ekosistem dan kelestarian hayati pun akan terganggu. 
Kenyataan di lapangan bahwa hasil trasngenik akan mematikan jasad renik dalam tanah sehingga dalam jangka panjang dikhawatirkan akan memberikan gangguan terhadap struktur dan tekstur tanah.Di khawatirkan pada areal tanaman transgenetik sesudah bertahun-tahun akan memunculkan gurun pasir. Kenyataan di lapangan adanya sifat GMO yang disebut cross-polination. Gen tanaman transgenetik dapat ber-cross- polination dengan tumbuhan lainnya sehingga mengakibatkan munculnya tumbuhan baru yang dapat resisten terhadap gen yang tahan terhadap hama penyakit. Cross-polination dapat terjadi pada jarak 600 meter sampai satu kilometer dari areal tanaman transgenic. Sehingga bagi areal tanaman transgenik yang sempit dan berbatasan dengan gulma maka dikhawatirkan akan munculnya gulma baru yang juga resisten terhadap hama tanaman tertentu. Tanpa membakar sisa tanaman GMO akan memusnahkan jasad renik dalam tanah bekas penanaman tanaman GMO akibat sifat dari sisa GMO yang bersifat toksis. Jangka panjang akan merubah struktur dan tekstur tanah.

KLONING
            Manusia bagai dewa, mungkin itu ungkapan yang tepat bagi para ahli yang bisa mengatur lahirnya makhluk hidup. Tapi tidak ada kekuatan yang melebihi Tuhan. Segala yang dibuat manusia pasti ada kelemahannya, itu yang kita temukan pada hasil kloning yang diciptakan manusia. Banyak orang yang telah kenal dengan Dolly. Domba yang merupakan hasil pemikiran para ahli bioteknologi. Domba Dolly yang lahir pada 5 Juli 1996 diumumkan pada 23 Februari 1997 oleh majalah Nature. Pada 4 Januari 2002 di hadapan para wartawan dinyatakan domba itu menderita radang sendi di kaki belakang kiri di dekat pinggul dan lutut atau menderita arthritis. (Kompas, 5/1/02)Kelahiran domba Dolly berkat kemajuan teknologi rekayasa genetika yang disebut kloning dengan mentransplantasikan gen dari sel ambing susu domba ke ovum (sel telur domba) dari induknya sendiri.
Optimisme Kloning
            Dengan adanya cloning ini diharapkan akan ada individu yang memiliki sifat unggul, dolly adalah awal dari penciptaan individu unggul. Kloning ini juga kita temukan dalam pembentukan hormone insulin, yang berguna dalam bidang kesehatan. Pembuatan cloning gen untuk insulin adalah sel pancreas. Dengan adanya pebuatan gen insulin ini akan sangat membantu manusia dalam menangani penyakit diabetes. Bisa dibayangkan bila ilmu ini dikembangkan dengan benar, mungkin bukan cuma diabetes saja yang bisa diobati.
Pesimisme Kloning
            Adanya cloning, dipandang dari kaum religius sebagai penentang kekuasaan Tuhan. Seharusnya tuhanlah yang menentukan akan kehadiran suatu individu didunia ini. Domba dolly yang merupakan hasil cloning yang diharapkan menjadi keturunan yang unggul ternyata juga menderita penyakit attritis. Dan penyakit ini muncul setelah 6 tahun masa hidupnya. Kematian Dolly, si kambing lahir sebagai rekayasa genetik menarik. Dari sumber lain didapat juga informasi bahwa usia dolly yang lahir itu, sama dengan usia dari sel sebenarnya. Jadi, meski baru terlahir, dia sesungguhnya sudah tua. Kloning manusia seutuhnya merupakan kekhawatiran umat manusia yang akan memusnahkan nilai-nilai kemanusiaan. Gen hewan disilangkan dengan gen manusia yang akan memberikan turunan sebagai hewan, yag jelas-jelas menurunkan nilai-nilai kemanusiaan. Penggunaan insulin yang diproduksi dari transplantasi sel pankreas babi ke sel bakteri, serta xenotransplantation yang menggunakan katup jantung babi ditransplantasikan ke jantung manusia memberikan kekhawatiranterhadap mereka yang beragama Islam. 
BAYI TABUNG/BAYI SUPER    
            Mempunyai keturunan merupakan harapan setiap pasangan yang membina rumah tangga. Namun tidaklah semua orang diberikan kemudahan untuk mendapatkan anugrah tersebut. Bagi Pasutri yang normal (tidak mandul) namun sulit mendapatkan keturunan sudah ada jalan yang bisa ditempuh yaitu bayi tabung. Bayi tabung merupakan peleburan sel sperma ayah dan ibu secara in vitro (diluar rahim). Dan bayi super merupakan upaya untuk mendapatkan keturunan yang diinginkan orang tua.
Optimisme
            Adanya bayi tabung dan bayi super ini memberikan harapan baru bagi pasangan suami istri yang tidak memunginkan punya anak bisa punya anak. Sel telur yang telah dibuahi secara invitro dimasukkan kembali kedalam rahim ibu. Bila tidak memungkinkan, dimasukkan kedalam rahim bukan istri suami (inang). Selain bayi tabung, dikenal juga bayi super. Merupakan bayi dengan sifat unggul diperoleh dari sel sperma bukan suami yang merupakan orang yang unggul (sperma enstin dll) sehingga dihasilkan keturnan yang baik dan berkualitas.
Pesimisme
            Hal seperti diatas mendapat tentangan dari banyak orang. Sangatlah tidak etis mengatur kelahiran seorang anak manusia seprti tersebut. Manusia memiliki akal budi dan etika yang melarang perzinahan. Jika menggunakan sel sperma yang bukan suami kita walaupun cuma selspermanya apakah ini bukan perzinahan? Walupun tujuannya untuk mendapatkan bayi yang super. 

           
KESIMPULAN
Adanya suatu pertentangan adalah wajar, setiap orang memiliki susut pandangnya masing-masing. Sesuatu yang baik belum tentu benar, tergantung situasi dan kondisi kapan hal tersebut digunakan. Rekayasa adalah suatu ilmu yang diciptakan, dipelajari, dan dikembangkan oleh manusia. Walaupun ilmu ini digunakan untuk menciptakan layaknya Tuhan, tidaklah akan bisa melebihi kuasaNya. Oleh karena itu pasti akan ada suatu kekurangan yang tercipta dan bisa membahayakan karena ini melibatkan genetic, yang tidak terlihat oleh mata. Namun kita juga tahu kalau para ahli telah melakukan berbagai tahapan penelitian sehingga berani mempublikasikan rekayasa genetika mereka. Kita juga tidak bisa menutup mata dan telinga kalau banyak orang yang telah menerima manfaat dari rekayasa genetika ini.
Kontroversial penggunaan suatu produk teknologi  maju  termasuk bioteknologi  harus dapat diatas secara bijaksana.  Salah satunya dengan pembuatan suatu produk hukum  yang bersifat legal.  Indonesia terkesan lambat dalam  membuat Undang-undang Keamanan hayati.   Pemerintah dapat menerima masukan sebanyak-banyakanya dari masyarakat, kemudian dibuat suatu pedoman standar yang mengikat  dan mempunyai kekuatan hukum tetap dari tanaman transgenik  dan produk olahannya (Mardiana, 2000).
Selain  itu, informasi mengenai  konstruksi dan  evaluasi  tanaman transgenik  dan produk olahannya dipandang perlu.   Seperti  disarankan oleh YLKI dan Konphalindo yang   mendesak pemerintah guna mengambil langkah-langkah  sebagai berikut:
1.       Mengadakan moratorium atas  impor, penjualan dan pelepasan  makanan  dan produk transgenik  hingga ada peraturan yang jelas dan ada bukti keamanannya.
2.      Menyusun Undang-undang keamanan hayati dan pangan
3.      Meratifikasi protokol  Cartagena,  menyusun peraturan  pelaksanaannya dengan menggunakan protokol tersebut  sebagai  standar minimum.
4.      Mengadakan dialog  vertikal  dan horizontal untuk mengambil keputusan tentang arah kebijakan pengawasan riset, uji coba, pelepasan, penggunaan dan monitoring produk transgenik.
5.      Memberlakukan sistem label
6.      Menyusun data base produk dan uji coba  produk transgenik  yang ada   di Indonesia dan menyebarkan informasi  tersebut ke publik




DAFTAR PUSTAKA
Helianti, Is. Diakses 9 oktober 2008. Perang Terhadap Produksi Rekayasa Gebetika, Haruskah? http://ishelianti.wordpress.com/2007/11/09/perang-terhadap-produk-rekayasa-genetika-haruskah/
Inez dan Padi Rekayasa Genetika. Diakses 9 Oktober 2008.  http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0301/25/naper/97249.htm
Sitepoe, Mangku. Diakses 9 Oktober 2008. Dampak Penggunaan Hasil Rekayasa Genetika Telah Menjadi Kenyataan?. http://agorsiloku.wordpress.com/2006/11/13/dampak-penggunaan-hasil-rekayasa-genetika/
Susiyanti. Diakses 9 Oktober 2008. Pro Dan Kontra Tanaman Transgenik. http://tumoutou.net/702_07134/susiyanti.htm

Studi Pembuatan Pestisida Alami dari Campuran Daun Tembakau (Nicotina tabacum) dan Bawang Putih (Allium sativum) Dalam Urine Sapi dengan Konsentrasi yang Aman dan Ramah Lingkungan.

Oleh:
I Wayan Suryanegara, S.Pd
2011
B. LATAR BELAKANG
            Budi daya tanaman adalah salah satu cara manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan yang selalu meningkat seiring degan pertumbuhan jumlah penduduk. Sektor ini juga menjadi sumber penghasilan bagi mereka yang bergelut dibidang pertanian. Segala daya upaya mereka dalam mengembangkan ini, dapat menghasilkan produksi yang menguntungkan ataupun merugikan, tergantung dari berbagai faktor, salah satunya adalah serangga.
Serangga merupakan mahluk invertebrata yang populasinya banyak terdapat didaerah-daerah pertanian. Memberikan bantuan dalam proses fertilisasi tumbuhan, namun dalam jumlah yang banyak seringkali menimbulkan kerugian. Sebagai lahan pekerjaan, adanya hewan ini di lahan pertanian memberi dampak negatif terhadap hasil panen. Petani cenderung merugi karena perusakan yang dilakukan hewan-hewan ini. Kerugian akibat serangan hama terhadap tanaman relatif cukup besar. Intensitas kerugian akibat serangan hama terjadi cukup nyata, terutama di lahan pertanian intensif.
            Keadaan seperti itu tidak akan dibiarkan saja oleh petani, perlu dilakukan berbagai macam penanggulangan. Pemberian pestisida merupakan salah satu caranya, dan  insektisida adalah jenis yang digunakan untuk membasmi serangga. Dari tahun ke tahun penggunaannya terus meningkat, insektisida mencapai total 70% dari seluruh pestisida kimia yang digunakan petani(Sutanto,R.2002). Sebagai konsekuensi penggunaan pestisida yang berlebihan menyebabkan timbulnya masalah lingkungan, termasuk ketahanan hama terhadap pestisida.   Perlu diingat tidaklah semua serangga yang hidup dalam tanaman itu berbahaya jadi perlu dipertimbangkan mencari suatu insektisida yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya.
            Bahan ramah lingkungan yang biasa digunakan dapat berupa ekstrak tumbuhan yang telah dikenal dimasyarakat. Daun tembakau (Nicotina tabacum) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki kandungan racun yang dapat membasmi hama. Selama ini daun tembakau hanya diproduksi menjadi lembaran-lembaran daun yang kemudian dirajang, dijemur, dimasukkan dalam keranjang, akhirnya dijumpai dalam setiap batangan rokok yang merupakan barang yang diproduksi bebas dengan potensi merusak (Edi Wahyu Sri Mulyono, Indonesianmuslim.com). Racun yang dihirup manusia ini bisa menjadi berguna jika sengaja digunakan pada hama terutama serangga. Bisa menjadi insektisida yang menjanjikan.
            Pemanfaatan nikotin dalam daun tembakau sebagai pestisida alami sudah lama dikenal dalam masyarakat. Nikotin termasuk dalam 38 pestisida alami yang digunakan masyarakat dalam pertanian organik. Nikotin termasuk pestisida yang murah dan efektif. Masyarakat terkadang salah dalam menggunakan, kandungan racun nikotin yang terlau tinggi bisa membahayakan jika tertinggal dan menjadi residu pada tanaman. Perlu dibuatkan takaran yang pas agar menjadi senjata pembasmi hama yang aman dan ramah lingkungan.
Pengaruh kandungan racun tembakau akan semakin kuat bila digabungkan dengan urine sapi. Kandungan dalam urine sapi akan dapat meningkatkan toksisitas racun dalam daun tembakau sehingga dapat membunuh hama tanaman. Selain itu urine sapi ini sangat aman digunakan untuk pestisida karena merupaka limbah alami. Urine sapi ini juga membantu menyumbang nitrogen bagi tanah dan tumbuhan itu sendiri.
Campuran antara urine sapi dan tembakau ini juga bisa dikombnasikan lagi dengan bawang putih ( Allium sativum). Bawang putih ini mengandung zat biostatik yang mampu mempercepat fermentasi perendaman daun tembakau dalam urine sapi. Bawang putih juga mampu membunuh kuman dan bakteri dalam urine sapi.

C. PERUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan uraian latar belakan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
  1. Apakah yang membuat daun tembakau (Nicotina tabacum), urine sapi, dan bawang putih dapat dimanfaatkan sebagai insektisida alami?
  2. Seberapa efektifkah daun tembakau, bawag putih dan urine sapi ini, dalam membasmi serangga yang mengganggu tanaman?
  3. Bagaimanakah keefektifan takaran konsentrasi larutan daun tembakau dan bawang putih dalam urine sapi yang tepat, agar menjadi insektisida yang aman dan ramah lingkungan?

D. TUJUAN PENELITIAN
            Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1. Untuk mengetahui kandungan dalam daun tembakau, bawang putih dan urine sapi yang dapat dimanfaatkan sebagai insektisida alami.
  2. Untuk mengetahui keefektifan dari daun tembakau dan bawang putih yang dilarutkan dalam urine sapi sebagai insektisida alami.
  3. Dapat menemukan konsentrasi larutan yang tepat, sehingga menghasilkan insektisida dari daun tembakau, bawang putih dan  urine sapi yang aman dan ramah lingkungan.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
            Sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini, maka luaran yang diharapkan adalah dihasilkan suatu pestisida alami dari campuran daun tembakau (Nicotina tabacum), bawang putih ( Allium sativum) dan urine sapi. Tentu saja yang aman dengan konsentrasi yang tepat sehingga ramah terhadap lingkungan.

F. KEGUNAAN PROGRAM              
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dibidang pertanian organik, khususnya dalam hal pembasmian hama tanaman, pestisida yang aman dan ramah lingkungan dengan konsep murah. Selain itu juga  bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan limbah pertanian yang dianggap tidak berguna dan sangat mudah dikembangkan di masyarakat. Filtrat pesisida ini bisa juga dipakai sebagai pupuk organik.
           
G. TINJAUAN PUSTAKA
G.1  Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
OPT mencangkup semua bentuk hidup yang dapat merusak tanaman. Wujudnya dari virus atau bakteri yang tidak dapat dilihat sampai tikus atau babi hutan, bahkan dapat pula dilakukan oleh manusia itu sendiri. OPT dikelompokkan menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah hama, yakni hewan atau binatang pengganggu dan perusak tanaman, misalnya serangga, molluska, dan mamalia. Golongan kedua adalah penyakit yang disebabkan oleh jasad mikro, seperti jamur, bakteri , dan virus. Golongan ketiga adalah gulma, yaitu tanaman yang tidak diharapkan kehadirannya pada suatu area pertanian. Berdasarkan penggolongan tersebut, OPT sering juga disebut sebagai HPG atau hama, penyakit, dan gulma.
Dalam merumuskan OPT dikenal istlah ambang ekonomi hama dan penyakit tanaman, yaitu batasan jumlah tertentu dari populasi OPT yang cukup membuat kerusakan tanaman dan secara ekonomi mulai merugikan. Nilai ambang ekonomi menjadi acuan mengenai perlu tidaknya dilakukan upaya pengendalian pada serangan hama dan penyakit tanaman yang ditemui. Tindakan pengendalian baru perlu dilakukan jika populasi OPT mulai bergerak diatas ambang ekonomi. Misalnya jika serangan belalang pada tanaman belimbing populasinya masih dibawah ambang ekonomi belum perlu dilakukan tindakan pengendalian.
G.2 Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu
Perlindungan tanaman merupakan proses yang bersifat kompleks sehingga memerlukan pemahaman peranan masing-masing komponen lingkungan, sistem usaha tani dan sistem pertanaman yang dilaksanakan. Dengan demikian perlindungan tanaman tidak dapat dilaksanakan hanya dengan mengandalkan satu tindakan saja, tetapi memerlukan kombinasi tindakan, yang menyesuaikan dengan jenis tanaman, iklim, dan kondisi wilayah. Pengetahuan tentang faktor-faktor tersebut sangat diperlukan petani untuk mengambil keputusan terbaik dalam melaksanakan tindakan sepadan dalam melindungi tanamannya.
Pada umumnya penggunaan pestisida alami keunggulannya tidak bisa dilihat dalam jangka pendek bila dibandingkan dengan pestisida kimia. Tetapi dalam  jangka panjang dapat dilihat, anatara lain:
·        menurunkan resiko hama meningkatkan ketahanannya terhadap perlakuan yang dilakukan;
·        tidak membasmi musuh alami;
·        menurunkan kemungkinan terjadinya risiko ledakan hama sekunder;
·        tidak berdampak negative terhadap kesehatan manusia maupun ternak;
·        tidak merusak lingkungan dan sumber air;
·        menurunkan ketergantungan petani pada bahan kimia pertanian;
·        menurunkan biaya produksi.
G.3 Prinsip Pemanfaatan Pestisida Hayati
            Penggunaan pestisida dari bahan hayati atau tumbuhan saat ini banyak mendapatkan perhatian sebagai salah satu usaha kearah pengembangan teknologi pertanian alternatif. Banyak diantara usaha mencari teknologi alternatif tersebut masih dalam tahap uji labolatorium atau percobaan sekala labolatorium.
            Sebenarnya penggunaan bahan tumbuhan sebagai pestisida alam sudah lama dikenal oleh nenek moyang kita sebagai salah satu kearifan tradisional yang sekarang hilang. Pada saat ini kita perlu melihat kembali kearifat tradisional dalam bidang perlindungan tanaman.
            Usaha penggunaan bahan nabati dapat dimulai dari bahan tumbuh-tumbuhan yang kita kenal dengan baik, bahan pembuat obat, tumbuhan beracun atau yang mempunyai kemampuan khusus. Selanjutnya tingkat penggunaannya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, demikian juga dengan tanaman yang hendak dilindungi. Usaha dengan pengendalian nabati ini aman terhadap lingkungan, karena bahan-bahan tersebut tidak bersifat asing bagi lingkungan dan cepat terurai menjadi bahan yang tidak berbahaya.
G.4 Daun Tembakau (Nicotina tabacum)
            Di Cina untuk mengendalikan penggerek batang padi, batang tembakau direndam langsung disawah pada sekeliling tanaman. Untuk satu hektar dibutuhkan sekitar 150-300 kg potongan batang tembakau sepanjang  10 cm. Cara ini diterapkan segera setelah panen sampai sekitar 10-14 hari efektif.
            Efektivitas bahan alami tersebut tergantung pada bahan aktif atau daya racun yang dikandungnya. Bahkan satu jenis tumbuhan yang sama tetapi berasal dari daerah yang berbeda dapat menghasilkan pengaruh yang berbeda. Sifat bioaktif dan daya racun suatu jenis tumbuhan tergantung pada kondisi tumbuh, umur tanaman, varietas dan lain-lain. Disamping itu pada saat penggunaannya faktor lingkungan juga banyak berpengaruh.
G.5 Urine Sapi
            Selama ini sapi hanya dimanfaatkan untuk mencari dagingnya saja, sementara kotoran dan urinnya dibuang dan dianggap tidak dapat dimanfaatkan. Selain sebagai pupuk, urine sapi ini dapat dimanfaatkan sebagai pestisida dengan mencampurkan daun tembakau. Dalam urine sapi terkandung hormone auksin, sitokinin dan juga kalium yang cukup tinggi. Bioaktif yang terdapat padanya dapat memperkuat nikotin pada tembakau. Selain dapat membasmi serangga, dengan adanya kandungan hormon pertumbuhan maka pestisida daun tembakau dan urine sapi akan dapat membantu pertumbuhan tanaman yang disemprot.         
G.6. Bawang Putih
Kalau dengar bawang putih, mungkin yang terbayang adalah bau mulut yang mengganggu. Padahal bawang putih adalah salah satu dari tanaman obat yang banyak manfaatnya, sehingga dijuluki “umbi seribu khasiat”. Salah satu fungsi bawang putih adalah sebagai campuran membuat pestisida hayati. Hal ini arena dalam bawang putih banyak mengandung bioaktif yang dapat membantu dalam pembuatan pestisida. Sebenarnya apa saja kandungan bawang putih tersebut ?
Senyawa yang ada pada bawang putih adalah aliin. Ketika bawang putih dimemarkan/dihaluskan, zat aliin yang sebenarnya tidak berbau akan terurai. Dengan dorongan enzim alinase, aliin terpecah menjadi alisin, amonia, dan asam piruvat. Bau tajam alisin disebabkan karena kandungan zat belerang. Aroma khas ini bertambah menyengat ketika zat belerang (sulfur) dalam alisin diterbangkan ammonia ke udara, sebab ammonia mudah menguap.
Allicin merupakan kandungan kimia aktif dalam bawang putih yang menyebabkan tanaman umbi ini beraroma sangat khas. Senyawa ini juga dikenal memiliki khasiat sebagai pembunuh kuman atau antibakteri. Sejumlah riset menunjukkan allicin membantu mengatasi infeksi dan melawan bakteri penyebab racun dalam makanan.
Bawang putih (Alium sativum) mengandung minyak atsiri
Minyak atsiri mempunyai susunan serat yang mempengaruhi sistem saraf hama, juga memberikan efek panas, serta rasa dan aroma yang tajam.


H. METODE PENELITIAN
H.1 Jenis dan Metode Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental laboratorium dan lapangan, yaitu dengan melakukan percobaan di laboratorium dan lapangan mengikuti prosedur kerja yang telah ada. Pada penelitian ini akan dicari jumlah penggunaan daun tembakau, bawang putih dan urine sapi sehingga menjadi pestisida yang aman dan ramah lingkungan, serta mengetahui cara penanggulangan hama yang tepat dengan pestisida yang dibuat. Pada penelitian ini akan dihitung berapa banyak penggunaan daun tembakau, bawang putih serta urine yang pas untuk membuat pestisida yang aman, kemudian daun ini akan dihancurkan, dicampurkan kedalam urine dengan takaran yang berbeda-beda., begitu juga dengan bawang putih.Dibuat beberapa jenis mulai dari kandungan ekstrak daun tembakau 25 % dalam urine sapi, 50 %, 75 %, dan 100%. Dalam setiap sampel pestisida dengan konsentrasi yang berbeda tersebut dimasukkan juga bawang putih sebanyak 20 gram.  Data penelitian ini akan dimanfaatkan untuk membuat pestisida alami yang efektif unuk membasmi hama dan ramah lingkungan.
H.2 Subjek dan Objek Penelitian
            Subjek penelitian ini adalah studi pembuatan pestisida alami dari daun tembakau dan bawang putih dalam urine sapi untuk membasmi hama yang aman dan ramah lingkungan. Objek penelitian ini berupa data kuantitatif konsentrasi pestisida yang dicoba, serta data kualitatif hasil pemakaian pestisida pada tanaman pertanian.
H.3 Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di Labolatorium Jurusan Pendidikan Biologi, FMIPA, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja dan Daerah persawahan diseputaran kota Singaraja pada bulan Desember-Mei tahun 2008-2009. Penggunaan daun tembakau dan urine sapi diperoleh dari petani diseputaran kota Singaraja, karena petani di daerah Singaraja pada saat musim kering menanam tembakau dan terdapat banyak petani yang mempunyai ternak sapi.
H.4 Teknik Pengumpulan Data
H.4.1 Jenis dan Penyajian Data
            Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif yang diperoleh berupa data konsentrasi larutan pestisida mulai 25%, 50%, 75%, dan 100%. Data kualitatif yang diperoleh adalah dampak dari penggunaan pestisida pada tanaman pertanian. Data yang diperoleh selama penelitian dicatat dalam daftar tabel berikut:
Tabel 1. Tabel Penyajian Data Hasil Penelitian
No.
Konsentrasi Pestisida
Keadaan Tanaman setelah disemprot
Keadaan Hama setelah disemprot
Jenis Hama yang mati akibat penyemprotan
Keadaan Tanaman selain tanaman yang sengaja disemprot
Keterangan
1
Kontrol 1





2
Kontrol 2





3
25 %





4
50 %





5
75 %





6
100%





Kontrol 1 : Daun tembakau dilarutkan dalam air biasa
Kontrol 2 : Pestisida hanya dari urine sapi
H.4.2 Tahap Persiapan
            Tahap persiapan dilaksanakan dengan mempersiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan selama penelitian. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: batang pengaduk, gelas beaker, gelas ukur, kertas saring, timbangan elkektrik, alat penyemprot, pipet tetes, dan mikroskop. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Aquades atau air biasa, daun tembakau (sudah kering), bawang putih, urine sapi, sampel hama.
H.4.3 Tahap Pelaksanaan Penelitian
H.4.3.1 Rangkaian Alat
a. Metode Pembuatan Larutan Pestisida
            Pelaksanaan metode ini adalah menimbang daun tembakau, menimbang bawang putih dan mencampurkannya dengan urine sapi, kemudian menyaringnya. Untuk mendapatkan konsentrasi larutan yang berbeda dilakukan empat kali penimbangan. Penimbangan pertama dicari 25 gram daun tembakau kering dimasukkan kedalam 100 ml urine sapi, diaduk dan didiamkan 2 minggu. Air rendaman tersebut disaring dengan kertas saring. Penimbangan kedua dicari 50 gram daun tembakau, ketiga 75 gram daun tembakau, keempat 100 gram. Dilanjutkan dengan prosedur yang sama sehingga didapatkan lima larutan pestisida dengan konsentrasi yang berbeda. Ke dalam masing-masing campuran tersebut dimasukkan 20 gram bawang putih yang sudah ditumbuk.
Gambar 1. Pembuatan larutan pestisida
 
 








Keterangan gambar 2: 1. Urine sapi 100 ml
                                    2. Daun tembakau kering yang ditimbang
                                    3. Timbangan elektrik
                                    4. Hasil timbangan daun tembakau dimasukkan dalam air    seni sapi.
                                    5. Bawang putih yang sudah ditumbuk dimasukkan ke dalam campuran tembakau dan urine sapi.


b. Metode Percobaan Penggunaan Pestisida di Laboratorium
            Sebelum terjun ke lapangan, ada baiknya melakukan tes terhadap keampuhan pestisida yang telah dibuat. Hal ini dilaksanakan dengan mengambil contoh tanaman yang terkena hama penyakit, misalnya padi. Larutan-larutan yang tertera pada tabel 1 disemprotkan pada sampel-sampel yang dibawa ke laboratorium. Dilihat hasilnya, untuk lebih meyakinkan gunakan mikroskop untuk mengetahui hama mikroskopis yang telah mati. Metode ini dilaksanakan hanya untuk mengetes apakah pestisida yang telah dibuat bisa digunakan atau tidak.
c. Metode Percobaan Penggunaan Pestisida di Lapangan
            Setelah melalui uji kelayakan di laboratorium, maka penelitian dilanjutkan dengan menuju ke lapangan. Dalam hal ini adalah persawahan disekitar kota singaraja. Untuk awal penelitian dilakukan pada tanaman padi. Untuk melaksanakan percobaan dilakukan pada 5 petak sawah, dimana setiap sawah dibagi dalam enam kuadran. Pada setiap kuadran disemprotkan jenis pestisida yang berbeda. Jadi dalam satu petak sawah akan ada 6 kuadran dengan 6 perlakuan penyemprotan pestisida. Pada setiap kuadran diberikan label. Pengamatan pasca penyemprotan dilakukan sehari sesudahnya. Pengamatan akan dilaksanakan di laboratorium dengan mengambil contoh sampel dan di lapangan langsung.
 













H.4.3.2 Persiapan Sampel
            Sampel yang disiapkan adalah enam jenis larutan pestisida (sesuai dengan table 1), dan 30 sampel padi dari 5 petak sawah dengan masing-masing petak 6 kuadran.

H.4.3.3 Teknik Analisis Data
            Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui pengaruh masing-masing jenis pestisida yang digunakan. Pengaruh yang dimaksud adalah efektifitas masing-masing pestisida dalam membasmi hama (data secara kualitatif), dan pengaruh penggunaan pestisida tersebut terhadap lingkungannya. Hasil data ini akan digunakan untuk mengembangkan jenis pestisida dari daun tembakau,bawang putih  dan urine sapi dalam konsentrasi yang aman lingkungan dan efektif dalam membasmi hama.


I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
No
KEGIATAN
Bulan Ke-
1
2
3
4
5
6
1
Pengajuan usulan PKM






2
Pengumuman diterima Dikti






3
Penyiapan alat dan bahan






4
Pembuatan sampel, pengambilan data






5
Analisis data






6
Pembuatan laporan akhir






7
Seminar, revisi, dan penggandaan laporan






8
Pengiriman laporan









DAFTAR PUSTAKA
Endah, Joesi dan Novizan. 2005. Menggendalikan Hama & Penyakit Tanaman. Tanggerang: AgroMedia Pustaka.
Hidayat, Arief. akses 20 September 2008. (Agromania) Pestisida Organik. http://groups.yahoo.com/group/agromania/files/
Hidayatullah, dkk. Diakses 20-09-2008. Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Melalui Penerapan Konsep Produksi Bersih. http://www.disnak.jabar.go.id/data/arsip/pengelolaan%20limbah%20cair.pdf
http://www.disnaksumbar.org, diakses 3 Oktober 2008
http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=130
Mulyono, Edy Wahyu Sri. akses 20 September 2008. Diversifikasi Tembakau: Agar Tidak Cuma Mirip Putaw. http://www.indonesiamuslim.com
Sutanto, Rahman. 2002. Penerapan Pertanian Organik Pemasyarakatan & Pengembangannya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius