Jumat, 30 Desember 2011

Studi Pembuatan Pestisida Alami dari Campuran Daun Tembakau (Nicotina tabacum) dan Bawang Putih (Allium sativum) Dalam Urine Sapi dengan Konsentrasi yang Aman dan Ramah Lingkungan.

Oleh:
I Wayan Suryanegara, S.Pd
2011
B. LATAR BELAKANG
            Budi daya tanaman adalah salah satu cara manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan yang selalu meningkat seiring degan pertumbuhan jumlah penduduk. Sektor ini juga menjadi sumber penghasilan bagi mereka yang bergelut dibidang pertanian. Segala daya upaya mereka dalam mengembangkan ini, dapat menghasilkan produksi yang menguntungkan ataupun merugikan, tergantung dari berbagai faktor, salah satunya adalah serangga.
Serangga merupakan mahluk invertebrata yang populasinya banyak terdapat didaerah-daerah pertanian. Memberikan bantuan dalam proses fertilisasi tumbuhan, namun dalam jumlah yang banyak seringkali menimbulkan kerugian. Sebagai lahan pekerjaan, adanya hewan ini di lahan pertanian memberi dampak negatif terhadap hasil panen. Petani cenderung merugi karena perusakan yang dilakukan hewan-hewan ini. Kerugian akibat serangan hama terhadap tanaman relatif cukup besar. Intensitas kerugian akibat serangan hama terjadi cukup nyata, terutama di lahan pertanian intensif.
            Keadaan seperti itu tidak akan dibiarkan saja oleh petani, perlu dilakukan berbagai macam penanggulangan. Pemberian pestisida merupakan salah satu caranya, dan  insektisida adalah jenis yang digunakan untuk membasmi serangga. Dari tahun ke tahun penggunaannya terus meningkat, insektisida mencapai total 70% dari seluruh pestisida kimia yang digunakan petani(Sutanto,R.2002). Sebagai konsekuensi penggunaan pestisida yang berlebihan menyebabkan timbulnya masalah lingkungan, termasuk ketahanan hama terhadap pestisida.   Perlu diingat tidaklah semua serangga yang hidup dalam tanaman itu berbahaya jadi perlu dipertimbangkan mencari suatu insektisida yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya.
            Bahan ramah lingkungan yang biasa digunakan dapat berupa ekstrak tumbuhan yang telah dikenal dimasyarakat. Daun tembakau (Nicotina tabacum) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki kandungan racun yang dapat membasmi hama. Selama ini daun tembakau hanya diproduksi menjadi lembaran-lembaran daun yang kemudian dirajang, dijemur, dimasukkan dalam keranjang, akhirnya dijumpai dalam setiap batangan rokok yang merupakan barang yang diproduksi bebas dengan potensi merusak (Edi Wahyu Sri Mulyono, Indonesianmuslim.com). Racun yang dihirup manusia ini bisa menjadi berguna jika sengaja digunakan pada hama terutama serangga. Bisa menjadi insektisida yang menjanjikan.
            Pemanfaatan nikotin dalam daun tembakau sebagai pestisida alami sudah lama dikenal dalam masyarakat. Nikotin termasuk dalam 38 pestisida alami yang digunakan masyarakat dalam pertanian organik. Nikotin termasuk pestisida yang murah dan efektif. Masyarakat terkadang salah dalam menggunakan, kandungan racun nikotin yang terlau tinggi bisa membahayakan jika tertinggal dan menjadi residu pada tanaman. Perlu dibuatkan takaran yang pas agar menjadi senjata pembasmi hama yang aman dan ramah lingkungan.
Pengaruh kandungan racun tembakau akan semakin kuat bila digabungkan dengan urine sapi. Kandungan dalam urine sapi akan dapat meningkatkan toksisitas racun dalam daun tembakau sehingga dapat membunuh hama tanaman. Selain itu urine sapi ini sangat aman digunakan untuk pestisida karena merupaka limbah alami. Urine sapi ini juga membantu menyumbang nitrogen bagi tanah dan tumbuhan itu sendiri.
Campuran antara urine sapi dan tembakau ini juga bisa dikombnasikan lagi dengan bawang putih ( Allium sativum). Bawang putih ini mengandung zat biostatik yang mampu mempercepat fermentasi perendaman daun tembakau dalam urine sapi. Bawang putih juga mampu membunuh kuman dan bakteri dalam urine sapi.

C. PERUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan uraian latar belakan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
  1. Apakah yang membuat daun tembakau (Nicotina tabacum), urine sapi, dan bawang putih dapat dimanfaatkan sebagai insektisida alami?
  2. Seberapa efektifkah daun tembakau, bawag putih dan urine sapi ini, dalam membasmi serangga yang mengganggu tanaman?
  3. Bagaimanakah keefektifan takaran konsentrasi larutan daun tembakau dan bawang putih dalam urine sapi yang tepat, agar menjadi insektisida yang aman dan ramah lingkungan?

D. TUJUAN PENELITIAN
            Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1. Untuk mengetahui kandungan dalam daun tembakau, bawang putih dan urine sapi yang dapat dimanfaatkan sebagai insektisida alami.
  2. Untuk mengetahui keefektifan dari daun tembakau dan bawang putih yang dilarutkan dalam urine sapi sebagai insektisida alami.
  3. Dapat menemukan konsentrasi larutan yang tepat, sehingga menghasilkan insektisida dari daun tembakau, bawang putih dan  urine sapi yang aman dan ramah lingkungan.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
            Sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini, maka luaran yang diharapkan adalah dihasilkan suatu pestisida alami dari campuran daun tembakau (Nicotina tabacum), bawang putih ( Allium sativum) dan urine sapi. Tentu saja yang aman dengan konsentrasi yang tepat sehingga ramah terhadap lingkungan.

F. KEGUNAAN PROGRAM              
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dibidang pertanian organik, khususnya dalam hal pembasmian hama tanaman, pestisida yang aman dan ramah lingkungan dengan konsep murah. Selain itu juga  bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan limbah pertanian yang dianggap tidak berguna dan sangat mudah dikembangkan di masyarakat. Filtrat pesisida ini bisa juga dipakai sebagai pupuk organik.
           
G. TINJAUAN PUSTAKA
G.1  Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
OPT mencangkup semua bentuk hidup yang dapat merusak tanaman. Wujudnya dari virus atau bakteri yang tidak dapat dilihat sampai tikus atau babi hutan, bahkan dapat pula dilakukan oleh manusia itu sendiri. OPT dikelompokkan menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah hama, yakni hewan atau binatang pengganggu dan perusak tanaman, misalnya serangga, molluska, dan mamalia. Golongan kedua adalah penyakit yang disebabkan oleh jasad mikro, seperti jamur, bakteri , dan virus. Golongan ketiga adalah gulma, yaitu tanaman yang tidak diharapkan kehadirannya pada suatu area pertanian. Berdasarkan penggolongan tersebut, OPT sering juga disebut sebagai HPG atau hama, penyakit, dan gulma.
Dalam merumuskan OPT dikenal istlah ambang ekonomi hama dan penyakit tanaman, yaitu batasan jumlah tertentu dari populasi OPT yang cukup membuat kerusakan tanaman dan secara ekonomi mulai merugikan. Nilai ambang ekonomi menjadi acuan mengenai perlu tidaknya dilakukan upaya pengendalian pada serangan hama dan penyakit tanaman yang ditemui. Tindakan pengendalian baru perlu dilakukan jika populasi OPT mulai bergerak diatas ambang ekonomi. Misalnya jika serangan belalang pada tanaman belimbing populasinya masih dibawah ambang ekonomi belum perlu dilakukan tindakan pengendalian.
G.2 Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu
Perlindungan tanaman merupakan proses yang bersifat kompleks sehingga memerlukan pemahaman peranan masing-masing komponen lingkungan, sistem usaha tani dan sistem pertanaman yang dilaksanakan. Dengan demikian perlindungan tanaman tidak dapat dilaksanakan hanya dengan mengandalkan satu tindakan saja, tetapi memerlukan kombinasi tindakan, yang menyesuaikan dengan jenis tanaman, iklim, dan kondisi wilayah. Pengetahuan tentang faktor-faktor tersebut sangat diperlukan petani untuk mengambil keputusan terbaik dalam melaksanakan tindakan sepadan dalam melindungi tanamannya.
Pada umumnya penggunaan pestisida alami keunggulannya tidak bisa dilihat dalam jangka pendek bila dibandingkan dengan pestisida kimia. Tetapi dalam  jangka panjang dapat dilihat, anatara lain:
·        menurunkan resiko hama meningkatkan ketahanannya terhadap perlakuan yang dilakukan;
·        tidak membasmi musuh alami;
·        menurunkan kemungkinan terjadinya risiko ledakan hama sekunder;
·        tidak berdampak negative terhadap kesehatan manusia maupun ternak;
·        tidak merusak lingkungan dan sumber air;
·        menurunkan ketergantungan petani pada bahan kimia pertanian;
·        menurunkan biaya produksi.
G.3 Prinsip Pemanfaatan Pestisida Hayati
            Penggunaan pestisida dari bahan hayati atau tumbuhan saat ini banyak mendapatkan perhatian sebagai salah satu usaha kearah pengembangan teknologi pertanian alternatif. Banyak diantara usaha mencari teknologi alternatif tersebut masih dalam tahap uji labolatorium atau percobaan sekala labolatorium.
            Sebenarnya penggunaan bahan tumbuhan sebagai pestisida alam sudah lama dikenal oleh nenek moyang kita sebagai salah satu kearifan tradisional yang sekarang hilang. Pada saat ini kita perlu melihat kembali kearifat tradisional dalam bidang perlindungan tanaman.
            Usaha penggunaan bahan nabati dapat dimulai dari bahan tumbuh-tumbuhan yang kita kenal dengan baik, bahan pembuat obat, tumbuhan beracun atau yang mempunyai kemampuan khusus. Selanjutnya tingkat penggunaannya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, demikian juga dengan tanaman yang hendak dilindungi. Usaha dengan pengendalian nabati ini aman terhadap lingkungan, karena bahan-bahan tersebut tidak bersifat asing bagi lingkungan dan cepat terurai menjadi bahan yang tidak berbahaya.
G.4 Daun Tembakau (Nicotina tabacum)
            Di Cina untuk mengendalikan penggerek batang padi, batang tembakau direndam langsung disawah pada sekeliling tanaman. Untuk satu hektar dibutuhkan sekitar 150-300 kg potongan batang tembakau sepanjang  10 cm. Cara ini diterapkan segera setelah panen sampai sekitar 10-14 hari efektif.
            Efektivitas bahan alami tersebut tergantung pada bahan aktif atau daya racun yang dikandungnya. Bahkan satu jenis tumbuhan yang sama tetapi berasal dari daerah yang berbeda dapat menghasilkan pengaruh yang berbeda. Sifat bioaktif dan daya racun suatu jenis tumbuhan tergantung pada kondisi tumbuh, umur tanaman, varietas dan lain-lain. Disamping itu pada saat penggunaannya faktor lingkungan juga banyak berpengaruh.
G.5 Urine Sapi
            Selama ini sapi hanya dimanfaatkan untuk mencari dagingnya saja, sementara kotoran dan urinnya dibuang dan dianggap tidak dapat dimanfaatkan. Selain sebagai pupuk, urine sapi ini dapat dimanfaatkan sebagai pestisida dengan mencampurkan daun tembakau. Dalam urine sapi terkandung hormone auksin, sitokinin dan juga kalium yang cukup tinggi. Bioaktif yang terdapat padanya dapat memperkuat nikotin pada tembakau. Selain dapat membasmi serangga, dengan adanya kandungan hormon pertumbuhan maka pestisida daun tembakau dan urine sapi akan dapat membantu pertumbuhan tanaman yang disemprot.         
G.6. Bawang Putih
Kalau dengar bawang putih, mungkin yang terbayang adalah bau mulut yang mengganggu. Padahal bawang putih adalah salah satu dari tanaman obat yang banyak manfaatnya, sehingga dijuluki “umbi seribu khasiat”. Salah satu fungsi bawang putih adalah sebagai campuran membuat pestisida hayati. Hal ini arena dalam bawang putih banyak mengandung bioaktif yang dapat membantu dalam pembuatan pestisida. Sebenarnya apa saja kandungan bawang putih tersebut ?
Senyawa yang ada pada bawang putih adalah aliin. Ketika bawang putih dimemarkan/dihaluskan, zat aliin yang sebenarnya tidak berbau akan terurai. Dengan dorongan enzim alinase, aliin terpecah menjadi alisin, amonia, dan asam piruvat. Bau tajam alisin disebabkan karena kandungan zat belerang. Aroma khas ini bertambah menyengat ketika zat belerang (sulfur) dalam alisin diterbangkan ammonia ke udara, sebab ammonia mudah menguap.
Allicin merupakan kandungan kimia aktif dalam bawang putih yang menyebabkan tanaman umbi ini beraroma sangat khas. Senyawa ini juga dikenal memiliki khasiat sebagai pembunuh kuman atau antibakteri. Sejumlah riset menunjukkan allicin membantu mengatasi infeksi dan melawan bakteri penyebab racun dalam makanan.
Bawang putih (Alium sativum) mengandung minyak atsiri
Minyak atsiri mempunyai susunan serat yang mempengaruhi sistem saraf hama, juga memberikan efek panas, serta rasa dan aroma yang tajam.


H. METODE PENELITIAN
H.1 Jenis dan Metode Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental laboratorium dan lapangan, yaitu dengan melakukan percobaan di laboratorium dan lapangan mengikuti prosedur kerja yang telah ada. Pada penelitian ini akan dicari jumlah penggunaan daun tembakau, bawang putih dan urine sapi sehingga menjadi pestisida yang aman dan ramah lingkungan, serta mengetahui cara penanggulangan hama yang tepat dengan pestisida yang dibuat. Pada penelitian ini akan dihitung berapa banyak penggunaan daun tembakau, bawang putih serta urine yang pas untuk membuat pestisida yang aman, kemudian daun ini akan dihancurkan, dicampurkan kedalam urine dengan takaran yang berbeda-beda., begitu juga dengan bawang putih.Dibuat beberapa jenis mulai dari kandungan ekstrak daun tembakau 25 % dalam urine sapi, 50 %, 75 %, dan 100%. Dalam setiap sampel pestisida dengan konsentrasi yang berbeda tersebut dimasukkan juga bawang putih sebanyak 20 gram.  Data penelitian ini akan dimanfaatkan untuk membuat pestisida alami yang efektif unuk membasmi hama dan ramah lingkungan.
H.2 Subjek dan Objek Penelitian
            Subjek penelitian ini adalah studi pembuatan pestisida alami dari daun tembakau dan bawang putih dalam urine sapi untuk membasmi hama yang aman dan ramah lingkungan. Objek penelitian ini berupa data kuantitatif konsentrasi pestisida yang dicoba, serta data kualitatif hasil pemakaian pestisida pada tanaman pertanian.
H.3 Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di Labolatorium Jurusan Pendidikan Biologi, FMIPA, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja dan Daerah persawahan diseputaran kota Singaraja pada bulan Desember-Mei tahun 2008-2009. Penggunaan daun tembakau dan urine sapi diperoleh dari petani diseputaran kota Singaraja, karena petani di daerah Singaraja pada saat musim kering menanam tembakau dan terdapat banyak petani yang mempunyai ternak sapi.
H.4 Teknik Pengumpulan Data
H.4.1 Jenis dan Penyajian Data
            Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif yang diperoleh berupa data konsentrasi larutan pestisida mulai 25%, 50%, 75%, dan 100%. Data kualitatif yang diperoleh adalah dampak dari penggunaan pestisida pada tanaman pertanian. Data yang diperoleh selama penelitian dicatat dalam daftar tabel berikut:
Tabel 1. Tabel Penyajian Data Hasil Penelitian
No.
Konsentrasi Pestisida
Keadaan Tanaman setelah disemprot
Keadaan Hama setelah disemprot
Jenis Hama yang mati akibat penyemprotan
Keadaan Tanaman selain tanaman yang sengaja disemprot
Keterangan
1
Kontrol 1





2
Kontrol 2





3
25 %





4
50 %





5
75 %





6
100%





Kontrol 1 : Daun tembakau dilarutkan dalam air biasa
Kontrol 2 : Pestisida hanya dari urine sapi
H.4.2 Tahap Persiapan
            Tahap persiapan dilaksanakan dengan mempersiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan selama penelitian. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: batang pengaduk, gelas beaker, gelas ukur, kertas saring, timbangan elkektrik, alat penyemprot, pipet tetes, dan mikroskop. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Aquades atau air biasa, daun tembakau (sudah kering), bawang putih, urine sapi, sampel hama.
H.4.3 Tahap Pelaksanaan Penelitian
H.4.3.1 Rangkaian Alat
a. Metode Pembuatan Larutan Pestisida
            Pelaksanaan metode ini adalah menimbang daun tembakau, menimbang bawang putih dan mencampurkannya dengan urine sapi, kemudian menyaringnya. Untuk mendapatkan konsentrasi larutan yang berbeda dilakukan empat kali penimbangan. Penimbangan pertama dicari 25 gram daun tembakau kering dimasukkan kedalam 100 ml urine sapi, diaduk dan didiamkan 2 minggu. Air rendaman tersebut disaring dengan kertas saring. Penimbangan kedua dicari 50 gram daun tembakau, ketiga 75 gram daun tembakau, keempat 100 gram. Dilanjutkan dengan prosedur yang sama sehingga didapatkan lima larutan pestisida dengan konsentrasi yang berbeda. Ke dalam masing-masing campuran tersebut dimasukkan 20 gram bawang putih yang sudah ditumbuk.
Gambar 1. Pembuatan larutan pestisida
 
 








Keterangan gambar 2: 1. Urine sapi 100 ml
                                    2. Daun tembakau kering yang ditimbang
                                    3. Timbangan elektrik
                                    4. Hasil timbangan daun tembakau dimasukkan dalam air    seni sapi.
                                    5. Bawang putih yang sudah ditumbuk dimasukkan ke dalam campuran tembakau dan urine sapi.


b. Metode Percobaan Penggunaan Pestisida di Laboratorium
            Sebelum terjun ke lapangan, ada baiknya melakukan tes terhadap keampuhan pestisida yang telah dibuat. Hal ini dilaksanakan dengan mengambil contoh tanaman yang terkena hama penyakit, misalnya padi. Larutan-larutan yang tertera pada tabel 1 disemprotkan pada sampel-sampel yang dibawa ke laboratorium. Dilihat hasilnya, untuk lebih meyakinkan gunakan mikroskop untuk mengetahui hama mikroskopis yang telah mati. Metode ini dilaksanakan hanya untuk mengetes apakah pestisida yang telah dibuat bisa digunakan atau tidak.
c. Metode Percobaan Penggunaan Pestisida di Lapangan
            Setelah melalui uji kelayakan di laboratorium, maka penelitian dilanjutkan dengan menuju ke lapangan. Dalam hal ini adalah persawahan disekitar kota singaraja. Untuk awal penelitian dilakukan pada tanaman padi. Untuk melaksanakan percobaan dilakukan pada 5 petak sawah, dimana setiap sawah dibagi dalam enam kuadran. Pada setiap kuadran disemprotkan jenis pestisida yang berbeda. Jadi dalam satu petak sawah akan ada 6 kuadran dengan 6 perlakuan penyemprotan pestisida. Pada setiap kuadran diberikan label. Pengamatan pasca penyemprotan dilakukan sehari sesudahnya. Pengamatan akan dilaksanakan di laboratorium dengan mengambil contoh sampel dan di lapangan langsung.
 













H.4.3.2 Persiapan Sampel
            Sampel yang disiapkan adalah enam jenis larutan pestisida (sesuai dengan table 1), dan 30 sampel padi dari 5 petak sawah dengan masing-masing petak 6 kuadran.

H.4.3.3 Teknik Analisis Data
            Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui pengaruh masing-masing jenis pestisida yang digunakan. Pengaruh yang dimaksud adalah efektifitas masing-masing pestisida dalam membasmi hama (data secara kualitatif), dan pengaruh penggunaan pestisida tersebut terhadap lingkungannya. Hasil data ini akan digunakan untuk mengembangkan jenis pestisida dari daun tembakau,bawang putih  dan urine sapi dalam konsentrasi yang aman lingkungan dan efektif dalam membasmi hama.


I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
No
KEGIATAN
Bulan Ke-
1
2
3
4
5
6
1
Pengajuan usulan PKM






2
Pengumuman diterima Dikti






3
Penyiapan alat dan bahan






4
Pembuatan sampel, pengambilan data






5
Analisis data






6
Pembuatan laporan akhir






7
Seminar, revisi, dan penggandaan laporan






8
Pengiriman laporan









DAFTAR PUSTAKA
Endah, Joesi dan Novizan. 2005. Menggendalikan Hama & Penyakit Tanaman. Tanggerang: AgroMedia Pustaka.
Hidayat, Arief. akses 20 September 2008. (Agromania) Pestisida Organik. http://groups.yahoo.com/group/agromania/files/
Hidayatullah, dkk. Diakses 20-09-2008. Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Melalui Penerapan Konsep Produksi Bersih. http://www.disnak.jabar.go.id/data/arsip/pengelolaan%20limbah%20cair.pdf
http://www.disnaksumbar.org, diakses 3 Oktober 2008
http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=130
Mulyono, Edy Wahyu Sri. akses 20 September 2008. Diversifikasi Tembakau: Agar Tidak Cuma Mirip Putaw. http://www.indonesiamuslim.com
Sutanto, Rahman. 2002. Penerapan Pertanian Organik Pemasyarakatan & Pengembangannya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar